Posts

Agama di Tengah Pergulatan Zaman: Resensi Atas Contemporary Studies of Religion Karya Prof. M. Zainuddin

Image
Oleh: Anis Zunaidah “ Kesalehan sosial dalam sikap beragama jauh lebih penting dari kesalehan individual untuk membangun peradaban baru melalui sikap saling mengerti satu sama lain .” Di tengah maraknya perbincangan tentang agama yang kerap terseret ke ruang konflik, politik identitas, dan kekerasan simbolik, buku Contemporary Studies of Religion karya Prof. M. Zainuddin hadir sebagai bacaan reflektif yang menenangkan sekaligus menggugah. Buku setebal 248 halaman yang diterbitkan UIN-Maliki Press pada tahun 2016 ini mengajak pembaca melihat agama secara lebih jernih. Agama bukan semata sebagai kumpulan doktrin dan ritual, agama bukan hanya sebuah karya akademik, melainkan juga catatan reflektif tentang bagaimana agama seharusnya dipahami dan dihadirkan sebagai kekuatan sosial yang hidup di tengah masyarakat modern. Sejak halaman-halaman awal, Prof. Zainuddin mengajak pembaca untuk keluar dari cara pandang sempit terhadap agama. Agama tidak cukup dipahami sebagai sistem keyakinan yang s...

Nyatanya, Ide Itu Bekal Penulis

Image
Menulis, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Arab, nyatanya memiliki simpul merah yang sama. Keduanya sama-sama meniscayakan rajin latihan. Di samping latihan, kreativitas ide tak jarang juga menjadi titik konsen tersendiri. Pada tulisan ringan kali ini, saya ingin flash back , nostalgia kenangan jaman kuliah. Dulu, saat saya duduk di semester tiga, tepatnya pada mata kuliah Maharah Kitabah 1, ide bukan menjadi masalah. Sebab pada mata kuliah Maharah Kitabah 1 pembelajaran lebih diarahkan pada ta'bir muwajjah (menulis terbimbing). Ada banyak gambar sebagai pancingan untuk ide menulis. Titik fokusnya adalah bagaimana menulis kalimat sesuai tata bahasa yang baik dan benar. Terkadang tidak hanya disajikan gambar, melainkan disertai juga beberapa kata kunci untuk dikembangkan, atau disajikan kata-kata yang random kemudian minta disusun, atau diberi pertanyaan-pertanyaan pancingan. Namun, pada mata kuliah Maharah Kitabah 2, semester empat, pembelajaran diarahkan pada ta'bir h...

Saat Aku Kecil

Kata ibu, saat kecil aku selalu merengek minta es krim. Setiap tukang es krim keliling lewat dengan iringan musik khasnya, aku langsung berlari meski posisi sedang asik bermain jauh di belakang rumah. Sambil mengejarku ibu heran, "Kok ya krungu."  Tanpa pandang bulu, tangan kecilku mengaduk-ngaduk bungkus-bungkus es krim untuk meraih rasa yang kuminati. Sambil kaki berjinjit, kepala kujungkel-jungkelkan ke dalam box es krim. Ibu hafal aku sangat suka coklat. Setiap melewati toko penjual coklat, aku selalu minta dibelikan satu batang. Suatu hari, ibu setor hasil jahitan. Aku diberi instruksi agar menundukkan kepala selama perjalanan. Topi merah dengan hiasan dua kepang panjang kukenakan. Bahkan ibu menyungsepkan ujung topi depan agak ke bawah agar mataku tak jelalatan ke mana-mana. Sebab yang kuminta bisa jadi tidak hanya coklat, sering juga yang nyeleneh. Entah bagaimana ceritanya, di tengah perjalanan tiba-tiba aku meraung menangis dan bilang "gabus, gabus, gabus......

Menghitung Sebelum Dihitung

Sejam yang lalu, saya tidak ingat apa yang terlintas di pikiran, apa yang terbatin di hati, dan apa yang lisan saya tuturkan. Pun, sejam ke depan saya tidak tahu apa yang akan saya pikirkan, tuturkan, atau kerjakan. Hal baik atau hal buruk, entahlah. Setiap kejadian sering terasa lewat begitu saja, tanpa ada penghitungan yang jelas. Apakah saya laba atau rugi. Detik demi detik saya lalui dan waktu terus berjalan. Apakah waktu hari ini saya manfaatkan dengan baik? Adakah amal kebajikan yang saya kerjakan? Atau sebaliknya, penuh kesiaan dan padat dengan kelalaian. Saya lebih sering tak menelitinya. Membiarkan dua sekretaris setia mencatatnya, entah apa yang mereka catat. Andai boleh saya mengintipnya sekarang. Hehe. Amirul mukminin Umar Ibn Khattab mengingatkan, حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا Hitunglah (amal) diri kalian semua sebelum kalian semua dihisab. Melanjutkan ungkapan sahabat Umar Ibn Khattab, Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Dimyati mengutip kitab Ihya Ulumidd...

Dari Sudut Almari Kaca

Image
Selalu ada sensasi tersendiri saat melihat rak buku atau dalam bahasa Arab disebut roffun . Terlebih untuk rak yang menyimpan karya yang sudah nampak berumur tak muda lagi. Berjajar rapi dengan warna yang sudah kuning kecokelatan. Bagi saya, yang klasik-klasik itu nyentrik. Semacam ada bau-bau mistis-eksotis. Hehe. Kebetulan, malam itu saya diminta teman untuk jaga kantor sendirian. Dua teman pergi keluar untuk membeli kabel dan stop kontak. Ah, saya kan wanita strong , demit nggak ndulit. Krik. Cukup lama saya mengamati dari luar rak kaca. Sebenarnya tidak satu dua kali saya memasuki kantor baru hasil renovasi gudang ini. Tapi entah mengapa baru kali ini mata saya tertarik untuk meniliknya. Tak berani menyibak pun menyentuh apalagi membuka, sebab milik Mbah Yai. Mbah Yai merintis dan mengasuh sebuah madrasah diniyah di desa kami. Beliau alumni salah satu pondok pesantren di Kediri. Madrasah yang didirikannya pun diberi nama sama dengan asal tempat Beliau menimba ilmu. Riyadlatul '...

Mendisiplinkan Diri

Image
Gambar di atas adalah jadwal aktivitas harian di DZ (Dar az-Zahra) Tarim. Dauroh khusus putri di bawah asuhan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Subhanallah.  Meski gambarnya remang-remang nampak jadwalnya padat dan manfa'at banget ya. Kalau di Indonesia bisa dibilang mirip dengan jadwal aktivitas di pesantren. Mungkin, bedanya ada pada penekanan amalan tertentu yang hendak difokuskan. Meskipun hakikatnya ini adalah jadwal santri, sedikit banyak bisa dijadikan bahan referensi. Barangkali sebagian dari kita ada yang tergerak hati ingin mencoba meningkatkan kualitas aktivitas spiritual, bisa kita teladani semampunya. Kecuali, untuk amalan yang meniscayakan prosesi ijazahan dari seorang guru demi sebuah keberkahan. Dan tentu tidak lupa kita sesuaikan dengan kondisi dan habitual masing-masing. Karena setiap kita pasti memiliki isytighal  (kesibukan) yang tidak sama. Apalagi di masa PPKM, mungkin sebagian dari kita -saya utamanya- ada waktu lebih banyak untuk melakukan r...

Harapkan yang Baik-Baik, Upayakan dengan Baik, Allah Tentukan yang Terbaik

  Oleh: Anis Zuna Sampai detik ini, adakah penat yang belum terlepas? Atau harapan yang mengunci pikiran? Ada begitu banyak asa yang belum lekas terealisasi? Sering kali kita mencoba memulai. Di tengah jalan, kadang kita terhenti, terjatuh. Dan setelah beberapa kali jatuh, terujilah dengan keengganan untuk bangkit. Atau mungkin bangkit dengan nyali tidak sekokoh yang pertama. Ada cita-cita, ada tugas, ada perjuangan, ada rindu, ada candu, ada harapan-harapan bahkan mungkin ada konflik batin yang menderu gebu namun tertahan. Terasa begitu banyak tugas manusia sebagai khalifah di hamparan bumi. Hmm. Pernahkah kita mengingat. Bahwa tidak semua yang kita ekspektasikan wajib terwujud, dan tidak semua yang kita harapkan itu pasti baik untuk kita. Namun, ada satu yang perlu kita tanam, kita wajib berupaya. Ya, dalam bahasa Arab biasa kita sebut dengan ikhtiar. Manusia diwajibkan untuk berusaha dan berdoa. Berusaha semaksimal mungkin akan apa yang diharapkan. Menapaki tangga demi...